Galih Priambodo | 26 Mei 2025 16:07
Tahun 2021, Kabupaten Kendal melakukan Ekskavasi ke dua di situs Boto Tumpang setelah penemuan Lokal oleh masyarakat lokal tahun 2018. Temuan berupa jejak karbon yang dikirimkan ke ĺaboratorium di Jerman dan bertarikh 640 Masehi jauh lebih tua dibandingkan prasasti masa Gajah Mada. Contohnya, Prasasti Singhasari yang juga dikenal sebagai Prasasti Gajah Mada, bertarikh tahun 1351 M. Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan ditemukan di Singosari, Malang. Prasasti Kamalagi juga bertarikh tahun 743 Saka (821 M). Prasasti ini ditemukan di Desa Tegalsari, Kecamatan Candimulyo, Magelang.
Penemuan ini telah mengubah pemahaman masyarakat
yang bahwa awalnya tumpukan tersebut di kira untuk
membangun Masjid Demak ternyata adalah Candi pada
masa kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Holing, adalah kerajaan Hindu-Buddha yang berpusat di Jawa Tengah, khususnya di pesisir utara. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-6 Masehi dan memiliki hubungan kuat dengan Dinasti Syailendra. Keberadaan Kerajaan Kalingga juga tercatat dalam catatan Tiongkok seperti yang menyebutkan Ratu Shima yang memerintah dengan adil dan bijaksana. Kerajaan Kalingga berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara.
Sejarah juga mencatat bahwa Dinasti Tang
(700 Masehi) pernah berdagang dengan Bangsa Holing.
Masyarakat Kerajaan Kalingga dikenal dengan kehidupan yang damai dan teratur di bawah pemerintahan Ratu Shima yang adil dan bijaksana.
Kerajaan Kalingga berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara.
Sejarah juga mencatat bahwa Dinasti Tang
(700 Masehi) pernah berdagang dengan Bangsa Holing.
Masyarakat Kerajaan Kalingga dikenal dengan kehidupan yang damai dan teratur di bawah pemerintahan Ratu Shima yang adil dan bijaksana.
Bukti-bukti yang menyebutkan keberadaannya lebih banyak berasal dari Tiongkok, salah satunya berasal dari pendeta bernama Hwi-ning yang mengunjungi Kerajaan Kalingga pada 664-667 M.
Raja-raja Kerajaan Kalingga Prabhu Wasumurti (594-605 M) Prabhu Wasugeni (605-632 M) Prabhu Wasudewa (632-652 M) Prabhu Wasukawi (652 M) Prabhu Kirathasingha (632-648 M) Prabhu Kartikeyasingha (648-674 M) Ratu Shima (674-695 M)
Potret kehidupan politik Kerajaan Kalingga meski hanya berdiri sekitar satu abad, Kerajaan Kalingga pernah membawahi 28 kerajaan kecil yang diberi kebebasan dalam mengatur pemerintahannya sendiri.
Akan tetapi, kerajaan-kerajaan tersebut harus tunduk pada peraturan kerajaan, menyerahkan upeti tahunan, dan mengakui sebagai bawahan Kerajaan Kalingga.
Penguasa kerajaan kecil tersebut adalah kerabat dekat penguasa Kalingga.
Penemuan ini telah mengubah pemahaman masyarakat
yang bahwa awalnya tumpukan tersebut di kira untuk
membangun Masjid Demak ternyata adalah Candi pada
masa kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Holing, adalah kerajaan Hindu-Buddha yang berpusat di Jawa Tengah, khususnya di pesisir utara. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-6 Masehi dan memiliki hubungan kuat dengan Dinasti Syailendra. Keberadaan Kerajaan Kalingga juga tercatat dalam catatan Tiongkok seperti yang menyebutkan Ratu Shima yang memerintah dengan adil dan bijaksana. Kerajaan Kalingga berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara.
Sejarah juga mencatat bahwa Dinasti Tang
(700 Masehi) pernah berdagang dengan Bangsa Holing.
Masyarakat Kerajaan Kalingga dikenal dengan kehidupan yang damai dan teratur di bawah pemerintahan Ratu Shima yang adil dan bijaksana.
Kerajaan Kalingga berlokasi di pesisir utara Jawa Tengah, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara.
Sejarah juga mencatat bahwa Dinasti Tang
(700 Masehi) pernah berdagang dengan Bangsa Holing.
Masyarakat Kerajaan Kalingga dikenal dengan kehidupan yang damai dan teratur di bawah pemerintahan Ratu Shima yang adil dan bijaksana.
Bukti-bukti yang menyebutkan keberadaannya lebih banyak berasal dari Tiongkok, salah satunya berasal dari pendeta bernama Hwi-ning yang mengunjungi Kerajaan Kalingga pada 664-667 M.
Raja-raja Kerajaan Kalingga Prabhu Wasumurti (594-605 M) Prabhu Wasugeni (605-632 M) Prabhu Wasudewa (632-652 M) Prabhu Wasukawi (652 M) Prabhu Kirathasingha (632-648 M) Prabhu Kartikeyasingha (648-674 M) Ratu Shima (674-695 M)
Potret kehidupan politik Kerajaan Kalingga meski hanya berdiri sekitar satu abad, Kerajaan Kalingga pernah membawahi 28 kerajaan kecil yang diberi kebebasan dalam mengatur pemerintahannya sendiri.
Akan tetapi, kerajaan-kerajaan tersebut harus tunduk pada peraturan kerajaan, menyerahkan upeti tahunan, dan mengakui sebagai bawahan Kerajaan Kalingga.
Penguasa kerajaan kecil tersebut adalah kerabat dekat penguasa Kalingga.
Perekonomian Kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Letaknya yang berada di pesisir utara Jawa menyebabkan sektor perdagangan maritim dapat berkembang pesat. Komoditas perdagangan Kalingga antara lain, kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Sementara itu, wilayah pedalaman yang subur dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pertanian dengan hasil utama berupa padi. Selain itu, sebagian penduduknya pandai membuat minuman dari bunga kelapa dan bunga aren.
Keruntuhan:
Kerajaan Kalingga mengalami keruntuhan setelah wafatnya Ratu Shima dan diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk serangan Sriwijaya dan ketidakpuasan masyarakat.
Kerajaan Kalingga mengalami keruntuhan setelah wafatnya Ratu Shima dan diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk serangan Sriwijaya dan ketidakpuasan masyarakat.
Sumber klik







0 komentar:
Posting Komentar